Internasional

Semenanjung Korea Memanas, Korut Nyatakan Perang

Editor : |Sabtu , 30 Maret 2013 - 14:41:23 WIB | Dibaca : 806 Kali |

Pasukan dan relawan Korea Utara disiapkan untuk menghadapi perang dengan Korea Selatan.

@IRNewscom I Pyongyang: SITUASI di semenanjung selama beberapa hari terakhir ini Korea kian memanas. Korea Utara secara tegas menyatakan perang dengan Korea Selatan. Pernyataan ini dikeluarkan secara resmi oleh pimpinan Korea Utara.

Suasana tegang di kawasan ini dipicu terkait tindakan provokatif Amerika Serikat dan Korsel melalui latihan militer bersamanya. Ini membuat pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, marah. Pada Jumat (29/03) kemarin, dia menyatakan, telah memerintahkan persiapan serangan roket ke pangkalan militer AS. Tindakan itu, menyusul aksi latihan militer bersama AS dan Korsel, yang antara lain menghadirkan pesawat pembom siluman B-2.

Ini bukanlah ancaman perang pertama yang dilontarkan Korut, semenjak negara itu dikenal sanksi internasional akibat uji coba nuklir ketiga pada Februari lalu. Korut dan Korsel secara teknis masih dalam keadaan berperang sejak konflik bersenjata pada 1953 berakhir. Namun aksi itu, tidak pernah ditindaklanjuti dengan perjanjian damai.

Di Washington, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Caitlin Hayden, mengatakan pernyataan terbaru pemerintah Korut itu sebagai tindakan yang tidak konstruktif. "Kami menanggapi ancaman serius tersebut dan tetap berhubungan erat dengan sekutu kami, Korea Selatan," tegas Hayden seperti dilansir BBC, Sabtu (30/03).

Kim Jong-un dilaporkan mengecam pesawat pembom Amerika B-2 yang melintas Korea Selatan sebagai langkah gegabah. Aksi itu, katanya, menunjukkan sebagai ultimatum bahwa mereka akan memicu perang nuklir di Semenanjung Korea.

Amerika Serikat serta pangkalan di Hawaii, Guam dan Korea Selatan disebutkan sebagai potensi sasaran. Ribuan tentara Korea Utara dan mahasiswa ikut serta dalam unjuk rasa di kota Pyongyang untuk mendukung pengumuman Kim Jong-un itu.

Pemimpin Korut Kim Jong-un memerintahkan rudal disiagakan. Sementara China, yang menjadi mitra dagang terbesar Korea Utara, kembali menegaskan seruan agar semua pihak meredakan ketegangan.

Namun Menlu Rusia Lavrov mengatakan,  jika membiarkan situasi tidak terkendali dan masalah ini akan berkembang menjadi lingkaran setan. Rudal milik Korut yang terbaru diperkirakan dapat mencapai Alaska, tetapi tidak ke daratan AS.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan, retorika Korut itu hanya akan membuat negara itu makin terisolasi. Sementara itu, di Seoul, Jurubicara Kementerian Luar Negeri Korsel, Hong Lei mengatakan, harus ada "upaya bersama" untuk menanggulangi "situasi tegang".[*]





BERITA LAINNYA :