Internasional

Indonesia Promosikan 3 Konsep Konektivitas di KTT APEC 2013

Editor : Ferro Maulana |Jumat , 05 April 2013 - 22:55:11 WIB | Dibaca : 237 Kali |

APEC | Ist/ Illustrasi

@IRNewscom I Jakarta: INDONESIA akan mempromosikan tiga konsep konektivitas, yaitu sektor fisik, institusional, dan perorangan di Konferensi Tingkat Tinggi 'Asia-Pacific Economic Cooperation' (APEC) 2013, yang diharapkan dapat meningkatkan integrasi dan ketahanan ekonomi kawasan.

Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya Wahid Supriyadi pada diskusi kelompok di Jakarta, Jumat, menjelaskan tiga konsep konektivitas itu dapat menjadi acuan untuk mengakomodasi arus dan pergerakan barang-jasa serta individu di wilayah lintas Pasifik, termasuk Asia dan Amerika Selatan.

"Kita terus melihat banyak pandangan tentang konektivitas di Pasifik, konsep konektivitas ini perlu diperkuat untuk mendukung pasar domestik dan mancanegara," katanya yang juga Alternate Senior Offiicial Indonesia untuk APEC.

Konektivitas fisik merupakan pembangunan infrastruktur perdagangan, perjalanan, energi, dan telekomunikasi yang dapat memudahkan arus ekonomi di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Wahid, Indonesia masih perlu membenahi banyak kondisi konektivitas fisik nasional dalam negeri sehingga mendukung proses aktif di ASEAN dan Asia Pasifik.

"Indonesia konektivitas dalam negeri masih rendah dengan indeks konektivitas 2,01, lebih rendah di bawah Vietnam 2,73. Namun, pertumbuhan ekonominya cukup baik di atas enam persen. Kita bisa bayangkan bagaimana pertumbuhan ekonomi jika konektivitasnya juga bagus" ujarnya.

Konektivitas institusional, melingkupi isu-isu perdagangan dan investasi yang besifat tidak langsung atau "behind the border issues". Dalam konteks institusional juga membahas koordinasi antarinstitusi, mekanisme dan proses ekonomi di APEC, seperti reformasi regulasi.

Pada konektivitas perorangan melingkupi pegerakan antarpenduduk dan kalangan profesional di APEC yang didorong dengan parawisata, pendidikan dan mobilitas tenaga kerja.

Menurut Ekonom Senior Bank Dunia Sjamsu Rahardja, reformasi regulasi untuk Indonesia dapat menjadi upaya penyederhanaan mekanisme untuk mendukung proses perdagangan di kawasan.

Dia menganggap sering terjadi salah pengertian dalam memahami reformasi regulasi.

"Jangan disalahartikan. Reformasi regulasi tidak selalu berarti `liberalisasi`, tetapi `simply` untuk fleksibilitas mekanisme," ujarnya.

Pada konektivitas perorangan, kata dia, masing-masing negara perlu memperkuat sumber daya manusia untuk mendukung semua konsep dari kegiatan perdagangan yang berkaitan juga dengan infrastruktur (fisik) dan institusional.

Tiga konsep konektivitas ini merupakan salah satu tema di APEC 2013, selain mewujudkan "Bogor Goals" yang membahas perluasan perdagangan, investasi, serta reformasi struktural dan kemudian tema mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata. [Ant-12]



BERITA LAINNYA :