Kronik

Khutbah Ramadan

Kisah Kejujuran Hati di Zaman Rasulullah SAW

Editor : Ferro Maulana |Jumat , 26 Juli 2013 - 02:54:51 WIB | Dibaca : 5981 Kali |

ilustrasi | Foto : ist

@IRNewscom I Jakarta: "Maka barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung" QS Ali-Imran:185.

Usai perang Khandaq, Rasulullah saw memerintahkan pasukan kaum muslimin untuk mengepung benteng Yahudi di Khaibar.

Hal ini untuk membuat perhitungan akibat ketua mereka, Hujay bin Akhtab menghasut kabilah-kabilah agar mengepung Madinah di perang Khandaq.

Saat pengepungan salah satu benteng di Khaibar, tiba-tiba datanglah seorang pengembala Yahudi bernama Aswad sedang menggiring ribuan ekor kambing.

Khawatir mata-mata, maka Aswadpun ditangkap, lalu dihadapkan kepada Rasulullah saw.

Nabi saw menasehati Aswad dan akhirnya dia taslim dan mengucapkan kalimat syahadat.

"Tapi saya harus kembalikan kambing-kambing ini kepada pemiliknya ya Rasulullah saw," ujar Aswad. "Silakan, hak orang harus dikembalikan," jawab Nabi saw.

Lalu, Aswad mulai memasukkan kambing-kambing itu ke benteng Yahudi, dan pasukan kaum muslimin dilarang menyerang hingga Aswad selesai.

Selanjutnya, Aswad ikut bergabung dengan pasukan kaum Muslimin. Siang itu, akhirnya kaum Muslimin berhasil merebut satu dari tiga benteng Yahudi tersebut. Lalu harta rampasan pun di bagi-bagikan, termasuk bagian untuk Aswad. Akan tetapi Aswad menampiknya, dia tidak mau menerimanya.

"Aku tidak menginginkan ini ya Rasulullah saw, saya ingin syahid dan tertusuk di sini dan di sini," ujar Aswad sambil menunjuk dada dan lehernya.

Setengah berbisik sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, apakah keinginan Aswad itu sungguh-sungguh atau bukan.

"Kalau kata-kata itu keluar dari hati nuraninya, maka Allah swt akan membuktikannya," kata Nabi saw.

Menjelang Ashar, perang pun kembali berkecamuk, dan kaum muslimin berhasil merebut benteng kedua. Namun Aswad gugur, dia syahid.

Sahabat melaporkan hal ini kepada Raasulullah saw. "Aswad syahid ya Rasulullah, dia tertusuk di sini dan di sini," ujar sahabat itu sambil menunjuk leher dan dadanya.

"Faqad Shadaq (Sungguh dia jujur)," kata Nabi saw. "Dia yang bicara tadi ya Rasulullah saw," tanya sahabat. "Benar, dia itu," jawab Nabi saw, dan Aswad akan menjadi ahli surga.

Dalam keterangan lain dikisahkan, bahwa sejak mengucapkan kalimah syahadat hingga mencapai syahidnya, ternyata Aswad belum sempat menunaikan shalat, namun takdir berlaku baginya mendapatkan surga Allah swt.

"Barang siapa diciptakan sebagai ahli surga, maka dimudahkan baginya amal-amal ahli surga" (Al-Hadits).

Kalau ditinjau dari segi umur keimanan, tentu Aswad masih sangat belia, masih mualaf. Namun karena kejujuran hatinya, dia disebut Nabi saw sebagai orang sidiq dan berhak mendapat surga Allah swt.

"Subhaanallah, bagaimana dengan kita, yang umur keimanannya jauh lebih tua?" Tanyakan kepada diri kita masing-masing. [Ant-12]

Suara tekukur sedih bunyinya
Tentu rindukan bebas terbang
Siapa tak jujur pada hatinya
Tentu selalu merasa bimbang.



BERITA LAINNYA :