Kronik

Asia Tertinggi Wanita Nikah Dibawah Usia 18 Tahun

Editor : |Jumat , 12 Oktober 2012 - 21:04:52 WIB | Dibaca : 1298 Kali |

Pernikahan dini

@IRNewscom | PERNIKAHAN dini dikalangan wanita di bawah usia 18 tahun, akan meningkatan secara drastis dalam dua dasawarsa mendatang. Laporan terbaru PBB, Kamis (11/10) lalu, menyebutkan kecenderungan ini akan terus berlanjut.

Menurut laporan oleh Organisasi PBB urusan populasi (UNFPA), diperkirakan pada tahun 2020 peningkatan perkawinan dini itu, setiap tahunnya mencapai 14,2 juta. Kemudian pada tahun 2030 diperkirakan pertahunnya mencapai 15,1 juta.

Laporan yang diterbitkan pada bertepatan dengan peringatan pertama Hari Internasional Anak Perempuan itu. Meskipun dilakukan upaya untuk mengendalikan praktek tersebut, frekuensi pengantin usia dini tetap berlangsung di negara berkembang selama beberapa dasawarsa terakhir.

"Pernikahan anak adalah pelanggaran hak asasi manusia. Ini mengerikan dan merampok hak anak-anak perempuan untuk pendidikan, kesehatan dan masa depan jangka panjang," kata Direktur Eksekutif UNFPA Babatunde Osotimehin.

"Pernikahan untuk anak perempuan dapat menyebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan. Kemudian penyebab utama kematian di kalangan anak perempuan usia 15-19 tahun di negara-negara berkembang," katanya.

Pada tahun 2010, satu dari tiga wanita, atau 67 juta perempuan yang berusia 20-24 tahun menikah sebelu mereka berulang tahun ke 18. Paling banyak pernikahan dini berlangsung di negara-negara berkembang termasuk China.

Kira-kira setengah dari pernikahan itu terjadi di Asia dan 20 persen lagi di sub-Sahara Afrika. Praktek ini juga terjadi di Amerika Latin dan Karibia, serta Eropa Timur.

Menurut data tahun 2010, untuk Asia Selatan, Bangladesh memiliki prevalensi tertinggi pernikahan dini yaitu 66 persen. Di negara Afrika barat Niger, 75 persen dari anak perempuan berusia 20 hingga 24 tahun menikah sebelum genap berusia 18 tahun.

Jika upaya pencegahan tidak dilakukan menurut perkiraan UNFPA mulai dari sekarang sampai 2030 sekitar 130 juta anak perempuan di Asia Selatan, 70 juta anak perempuan di sub-Sahara Afrika dan 45,5 juta anak perempuan di Amerika Latin dan Karibia menghadapi risiko serupa.

Namun ada beberapa kabar baik. Beberapa negara berkembang - termasuk Armenia, Bolivia, Ethiopia dan Nepal - telah mengalami penurunan jumlah pengantin anak. Sekalipun praktik tersebut terus berlanjut.

"Perasaan saya tentang ini serupa dengan perasanaan saya tentang apartheid," kata Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu yang juga seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, kepada wartawan.

Salamatou Aghali Issoufa, seorang aktivis muda Nigeria yang berhasil meyakinkan orang tuanya untuk tidak dinikahkan dengan seorang pria berusia 50-tahun pada usia 14 tahun. Dia meminta anak perempuan diberi kesempatan diberikan akses pendidikan.

Setelah menyelesaikan pendidikannya anak perempuan itu, sekarang bekerja sebagai bidan di desanya.
"Saya punya banyak keberuntungan, berbeda dengan sepupu saya yang menikah ketika dia berusia 16 tahun dan yang sudah memiliki tiga anak," katanya.

Laporan ini meminta pemerintah untuk mempromosikan dan menegakkan hukum yang mengatur usia minimal untuk menikah pada usia 18 tahun baik untuk anak laki-laki atau perempuan.

Pada tahun 2010, 158 negara melaporkan bahwa 18 tahun adalah usia minimum menurut hukum bagi seorang perempuan untuk menikah tanpa izin orang tua. Tapi di 146 negara, pernikahan di bawah umur boleh dilakukan, dan di 52 negara bahkan di bawah usia 15 tahun, dengan persetujuan orang tua.

Anak perempuan yang tinggal di daerah pedesaan memiliki peluang menikah dini dua kali lebih besar dari pada rekan-rekan mereka di daerah perkotaan. Mereka yang tidak bersekolah tiga kali lebih mungkin menjadi pengantin dini dibandingkan dengan anak perempuan yang setidaknya memperoleh pendidikan menengah.

Krisis kemanusiaan sering membuat anak perempuan lebih rentan karena keluarga mereka mungkin menikahkan mereka demi mas kawin atau keuntungan lain. Misal dengan harapan memperoleh tempat berlindung.

Laporan tersebut juga menyebut "pengantin bencana kelaparan" yaitu anak-anak perempuan yang dinikahkan oleh orang tua mereka di negara rawan pangan. Misalnya di Kenya sebagai pilihan terakhir.

Laporan itu juga menyebutkan tentang anak-anak perempuan yang dinikahkan kepada para "duda tsunami" di Sri Lanka, Indonesia dan India sebagai cara untuk mendapatkan subsidi negara atas pernikahan dan memulai sebuah keluarga.[ant]






BERITA LAINNYA :